Alasnya memakai nyiru, di atasnya berisi berisi, kelapa, telur
itik, tingkih, pangi, pisang, plawa peselan, gantusan masing-
masing sebuah. Selanjutnya berisi 4 buah tumpeng yang
diletakkan pada masing-masing sudut disertai raka-raka,
rarasmen, ulam ayam dipanggang, canang burat wangi lenga
wangi sampyan nagasari, peras sasayut, sanggah urip,
panyeneng, pasucian, masing-masing satu tanding.
Banten Panyambutan, merupakan lambang alam semesta yang
indah untuk menyambut turunnya Sang Hyang Atma ke dunia, yang
berasal dari Brahma (sumber-Nya) yaitu jiwanya alam semesta,
yang memang sangat indah dan menarik, sehingga tidak jemu-
jemunya untuk mempelajarinya. Kelahiran yang diakibatkan oleh
keindahan akibat karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa, patut ditebus
dengan usaha menciptakan keindahan dalam kehidupan, agar selalu
menjadi harmonis, dilambangkan oleh banten panyambutan itu.
Tumpeng panyambutan melambangkan sthana Ida Sang Hyang
Widhi Wasa, memakai Sampyan Nagasari mengarah ke delapan
penjuru mata angin, sebagai lambang tempat sari-sarinya bumi
untuk sumber kehidupan manusia. Banten Peras merupakan
lambang permohonan yang berhasil (prasida) atau sukses, Sasayut
lambang permohonan agar kehidupan dapat meningkat,
Sanggahurip adalah lambang penunjang hidup maksudnya
kehidupannya perlu ditunjang dengan tubuh dan jiwa yang kuat dan
sehat. Panyeneng lambang permohonan supaya kehidupannya selalu terhindar dari segala gangguan, Pabersihan lambang untuk membersihkan dan menyucikan secara lahir dan batin.
Buah-buahan,
Jajan,
Tumpeng,
Canang Buratwangi,
Rarasmen,
Sampian Nagasari,
Ulam Ayam Panggang,
Pasucian,
Kelapa,
Penyeneng,
Sanggah Urip,
Gantusan,
Pangi,
Peras Sesayut,
Pisang,
Telur Itik Mentah,
Tingkih