Peralatan serta sesajen yang menjadi dasar bangunan adalah :
1) Dua buah batu merah (bata abang) yang masih utuh, satu diantaranya digambari “Bedawang Nala” yaitu seekor Penyu. Pada punggung Penyu ditulis aksara “Ang" (dalam huruf Bali/ Jawa lainnya yang melambangkan api). Batu merah yang lain digambari “Padma" berdaun 8; tiap lembar menunjuk satu arah mata angin dan sarinya berbentuk bulat, ditulisi dua huruf dari sepuluh huruf suci yang disebut "dasa aksara" yaitu “I” dan “Ya”. Delapan huruf lainnya ditempatkan pada tiap lembar daun Padma dimulai dari huruf "sa" pada daun yang menunjuk arah Timur, "Ba" yang menunjuk arah Selatan, “Ta” arah Barat, “A” arah Utara, "Na" menunjuk arah Tenggara, "Ma" arah Barat Daya, "Si" arah barat laut, dan “Wa” pada daun yang menunjuk arah Timur Laut. Semuanya ada 10 huruf yaitu ; Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si. Wa, Ya. Huruf-huruf tersebut hendaknya ditulis dalam huruf Bali, Jawa, atau dapat pula dengan huruf Dewanagari.
2) Sebuah kelapa gading yang masih kecil. Kelapa gading ini dikasturi, airnya dibuang, lalu dimasukkan sebuah Kwangen dari daun pisang yang sudah tua (keraras) berisi uang 33 kepeng, kemudian ditutup kembali. Bagian kulitnya ditulisi aksara "Om Kara" (dalam huruf Bali/ Jawa Dewanagari). Selanjutnya dibungkus dengan kain putih, ditempeli Kwangen dari daun pisang yang tua berisi uang 11 kepeng dan diikat dengan benang putih, merah, kuning serta hitam. Bila mungkin Kwangen ini ditulisi aksara "Om Kara Amerta".
3) Sebuah batu yang agak besar berwarna hitam legam (batu bulitan) ditulisi 3 aksara yaitu "Ang, Ung, Mang"(dalam huruf Bali/ Jawa/ Dewanagari) huruf ini merupakan penjabaran dari Om-Kara.
4) Canang Burat Wangi dan seikat Sorohan Alit (Peras, Tulung, Sesayut dengan Tumpeng pada beras berwarna merah sedangkan nasi Sesayut dan Tulung tetap berwarna putih). Jika mungkin sesajen ini dilengkapi dengan Iwak Ayam Biying (bulu merah) yang dipanggang.
Peralatan serta sesajen tersebut dipendam menjadi
dasar bangunan dengan susunan sebagai berikut :
1) Paling bawah adalah batu merah yang berisi gambar Bedawang Nala, disusuni batu merah yang berisi gambar Padma, batu bulitan, kelapa gading yang berisi Kwangen lalu ditimbun sedikit agar rata. Diatasnya diletakkan sesajen yang terdiri dari; sorohan Alit, Canang Buratwangi dan Kwangen atau bunga yang dipakai bersembahyang. Akhirnya ditimbun sampai rata selanjutnya pembuatan bangunan dapat dilanjutkan
2) Untuk bangunan atau pelinggih yang kecil-kecil hanya mempergunakan sebuah batu merah yang berisi gambar padma atau benawang nala dan sebuah kewangen berisi aung 33 atau 11 kepeng, sedangkan sesajennya sama dengan diatas.
3) Untuk bangunan tempat tinggal hanya mempergunakan sebuah batu merah yang berisi gambar benawang nala atau hanya mempergunakan sesajen dan Kwangen seperti diatas.
Upacara peletakan dasar ini disertai dengan Sanggar
Pasaksi yang dipergunakan selama bekerja/ sampai bangunan selesai.
1) Untuk pertama kali yaitu pada waktu peletakan dasar sesajennya adalah: Peras, Ajuman, Daksina dan Tipat Kelanan. Kemudian pada hari-hari berikutnya disesuaikan dengan keadaan; yang terkecil adalah "Banten Jotan/ Banten Saiban dua buah : di Sanggar satu buah dan dibawah satu buah. Sesajen ini dihaturkan kehadapan Ida Sang hyang Widhi dengan sebutan Sang hyang Siwa Raditya (Bhatara Surya) yaitu sebagai sumber sinar agar menerangi serta menuntun para pekerja sehingga tidak mengalami kesulitan.
2) Setelah bangunan selesai dilanjutkan dengan upacara melaspas sesuai dengan fungsi bangunan tersebut sanggar pesaksi yang pertama dicabut.
Ajuman,
Daksina,
Peras,
Tipat Kelanan,
Banten Saiban,
Batu Bulitan,
Batu Merah,
Benang Hitam,
Benang Kuning,
Benang Merah,
Benang Putih,
Canang Buratwangi,
Iwak Ayam Biying,
Kain Putih,
Kelapa Gading,
Kewangen,
Sanggar Pesaksi,
Sorohan Alit,
Uang Kepeng