Canang Genten, adalah sebuah taledan kecil berisikan plawa (daun kayu), Porosan serta bunga. Ada pula yang melengkapi dengan Canang sari. Bunganya dialasi dengan Urassari yaitu, sejenis jejahitan dari janur, sedangkan perlengkapan lainnya dialasi dengan sebuah Ceper.
Perwujudan Canang Genten ini sangat sederhana termasuk kecil/ kanista, namun semua unsur dan sarana yang membentuk mempunyai arti simbolis, sehingga sering disebutkan "Kecil tetapi sudah inti”. Bila dilihat dari tetuwasan, reringgitan dan jejahitan yang dipergunakan itu melambangkan ketulusan atau kesungguhan hati yaitu sudah terwujud
Alas upakara berbentuk segi tiga berupa Ituk-ituk merupakan simbol dari Tri Pramana yaitu Sabda, bayu, idep, Simbol Triguna yaitu Sattwam, Rajas, Tamas, Simbol Trikaya Parisudha yaitu manacika, Wacika, Kayika, dan simbol Trikona yaitu Utpeti, Sthiti, Pralina. Kesemuanya ini merupakan rangkaian yang utuh dan ada dilalui dalam pembentukannya.
Alas Upakara berbentuk segi empat berupa Ceper, taledan merupakan simbol dari Catur Purusha Artha yaitu Dharma, Artha, Kama, Moksha merupakan empat tujuan hidup yang dilakukan dan dicapai tujuannya secara lahir dan bathin dalam kehidupannya. Juga merupakan simbol Catur Marga yaitu Bhakti, Karma, Jnana, Yoga Marga adalah empat jalan untuk mencapai kesempurnaan dalam mendekatkan diri dengan Ida Hyang Widhi Wasa yang dapat dirasakan dari proses pelaksanaannya.
Unsur Pelawa atau daun kayu sebagai dasar perlengkapan melambangkan ketenangan atau kesejukan pikiran dari yang mempersembahkannya. Selanjutnya sarana porosan yang terdiri dari tiga unsur yaitu sirih, pinang dan kapur lambang Dewa Trimurti. Sirih lambang Dewa Wisnu, Pinang lambang Dewa Brahma, Kapur lambang Dewa Siwa. Diatasnya berisi reringgitan Uras Sari atau Wadah Lengis melambangkan ketulusan hati. Diatas Uras Sari diletakkan bunga yang harum dan segar, Rampe dan boreh miyik merupakan lambang perangsang untuk mendekatkan diri dan pikiran dengan Beliau yang dimulaikan.
Canang Genten ini dapat dipergunakan pada semua upacara, baik yang besar ataupun kecil, malahan selalu dipergunakan sebagai pelengkap upakara-upakara yang lainnya.