Tempatnya berupa Palangkiran, yang diletakkan diatas tempat
tidur si bayi, merupakan sthana Sang Hyang Kumara, yang
bertugas menjaga dan melindungi keselamatan si bayi.
Upakaranya terdiri dari :
Sebuah Ajuman (Ajengan, Sodan, Rayunan) alasnya
memakai sebuah taledan diatasnya berisi penek nasi putih
dan kuning berisi lauk telur dadar dan rarasmen (Kacang,
Saur, Sambel, Garam), raka-raka (jajan dan buah-buahan),
memakai sampyan pelaus. Perlengkapan lainnya berupa
kekiping, pisang emas, tebu, nyanyah gringsing, canang
sari, Canang burat wangi lenga wangi, miyik-miyikan
(bunga-bunga yang harum). Selain itu juga disertakan guli-
guli, buah salak, ketela rambat, keladi, kunir.
Banten Kumara yang dipersembahkan kepada Dewa Kumara
berupa sebuah Ajuman memakai Nasi putih kuning sebagai lambang
persembahan kasih dan bakti. Kasih yang dimohonkan dari Dewa
Kumara sebagai penjaga dan pelindung dan bakti dari orang tua si
bayi, yang pada dasarnya merupakan sarana pendidikan belajar
mendekatkan diri dari kecil. Telur lambang kehidupan, dibuatkan
telur dadar dimaksudkan agar kehidupannya selalu berkembang.
Perlengkapan berupa Guli-guli, adalah lambang alat-alat permainan
yang dimaksudkan agar Dewa Kumara tak jemu-jemunya menjaga
si bayi. Buah Salak yang bersisik banyak, lambang untuk
memancing keasyikan Dewa Kumara untuk menghitung sisiknya
agar tidak pergi-pergi, dan selalu tenang menjaga si bayi. Kunir dan
keladi merupakan lambang pertumbuhan menuju pada
kesempurnaan dan ketela rambat bermakna sebagai penghubung
untuk mewujudkan kehidupan yang berimbang dalam lahir dan batin.
Ajuman,
Buah-buahan,
Jajan,
Miyik-miyikan,
Sampian Pelaus,
Canang Buratwangi,
Kunir,
Rarasmen,
Canang Sari,
Guli-guli,
Kekiping,
Keladi,
Ketela Rambat,
Nyah-nyah Geringsing,
Penek Kuning,
Penek Putih,
Pisang Emas,
Salak,
Tebu,
Telor Dadar